Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi September 2010
KALENDER LITURGI: SEPTEMBER 2010
ALLAH MENCIPTAKAN MEREKA SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
dikutip dari: “Katekismus Gereja Katolik”, #369 - #373
Laki-laki dan perempuan diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. “Kepriaan” dan “kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, laki-laki dan perempuan, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Pencipta-nya. Keduanya, laki-laki dan perempuan, bermartabat sama “menurut citra Allah”. Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.Allah Sendiri sama sekali tidaklah menurut citra manusia. Ia bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Allah adalah Roh murni, pada-Nya tidak bisa ada perbedaan jenis kelamin. Namun dalam “kesempurnaan-kesempurnaan” laki-laki dan perempuan tercermin sesuatu dari kesempurnaan Allah yang tidak terbatas: ciri khas seorang ibu dan ciri khas seorang ayah dan suami.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Sabda Allah menegaskan itu bagi kita melalui berbagai tempat dalam Kitab Suci: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan pernolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kejadian 2:19-20). Perempuan yang Allah “bentuk” dari rusuk laki-laki, dibawa kepada manusia. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kejadian 2:23). Laki-laki menemukan perempuan itu sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia.
Laki-laki dan perempuan diciptakan “satu untuk yang lain”, bukan seakan-akan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi “penolong” satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (“tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam perkawinan, Allah mempersatukan mereka sedemikian erat sehingga mereka “menjadi satu daging” (Kejadian 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: “Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi” (Kejadian 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri dan orangtua bekerjasama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus.
Menurut rencana Allah, laki-laki dan perempuan memiliki panggilan supaya sebagai “wakil” yang ditentukan Allah “menaklukkan dunia”. Keunggulan ini tidak boleh menjadi kelaliman yang merusak. Diciptakan menurut citra Allah, yang “mengasihi segala yang ada” (Kebijaksanaan 11:24), laki-laki dan perempuan terpanggil untuk mengambil bagian dalam penyelanggaraan ilahi untuk makhluk-makhluk lain. Karena itu, mereka bertanggung jawab untuk dunia yang dipercayakan Allah kepada mereka.
TELADAN MARIA MEMANCARKAN CAHAYA KE ATAS KEWANITAAN
dikutip dari: Surat Ensiklik “REDEMPTORIS MATER”, #46
Sebenarnya, kewanitaan itu mempunyai hubungan yang khas dengan Bunda Penebus, suatu pokok yang dapat dipelajari secara lebih mendalam di tempat lain. Di sini saya cuma ingin mencatat bahwa teladan Maria dari Nazaret memancarkan cahaya ke atas kewanitaan seperti apa adanya oleh kenyataan bahwa Allah, di dalam peristiwa yang luhur Penjelmaan Putra-Nya menjadi manusia, mempercayakan Diri-Nya kepada pelayanan yang bebas dan aktif seorang perempuan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kaum perempuan, dengan memandang Maria, menemukan dalam dia rahasia menghayati kewanitaan mereka dengan layak dan mencapai kemajuan mereka sendiri yang sejati. Di dalam cahaya Maria, Gereja melihat dalam diri kaum perempuan pantulan keindahan yang mencerminkan perasaan-perasaan paling halus yang dapat diungkapkan oleh hati manusia: keutuhan penyerahan diri dalam cinta; kekuatan yang mampu menanggung dukacita yang paling besar; kesetiaan tanpa batas serta devosi yang tak mengenal lelah untuk bekerja; kemampuan untuk memadukan intuisi yang tajam dengan kata-kata, dukungan serta dorongan.
SEORANG PEREMPUAN SAMARIA DATANG UNTUK MENIMBA AIR
oleh: St Agustinus, Uskup (354 - 430)
Seorang perempuan datang. Ia adalah simbol Gereja yang belum dijadikan benar, tetapi akan segera dijadikan benar. Kebenaran muncul dari percakapan. Ia datang dalam ketidaktahuan, ia menemukan Kristus, dan ia bercakap-cakap dengan-Nya. Marilah kita melihat tentangnya, marilah kita melihat mengapa seorang perempuan Samaria datang untuk menimba air. Bangsa Samaria bukan bagian dari bangsa Yahudi; mereka adalah orang-orang asing. Kenyataan bahwa perempuan itu datang dari suatu bangsa asing merupakan bagian dari makna simbolis, sebab perempuan itu adalah simbol Gereja. Gereja akan datang dari kaum kafir, dari suatu bangsa bukan Yahudi.Jadi, patutlah kita mengenali diri kita sendiri dalam perkataannya dan dalam pribadinya, dan bersama perempuan itu menyampaikan syukur kita sendiri kepada Allah. Perempuan itu adalah simbol, bukan realita; ia mempratandakan realita, dan realita akan segera datang. Ia menemukan iman dalam Kristus, yang mempergunakannya sebagai suatu simbol untuk mengajarkan kepada kita apa yang akan datang. Perempuan itu lalu datang untuk menimba air. Ia memang datang hanya untuk menimba air, suatu hal yang lazim bagi laki-laki ataupun perempuan.
Yesus berkata kepadanya: Berilah Aku minum. Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Sebab itu, perempuan Samaria bertanya kepada-Nya: Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
Bangsa Samaria adalah orang-orang asing; bangsa Yahudi tidak pernah mau mempergunakan barang-barang bangsa asing. Perempuan itu membawa sebuah timba untuk menimba air. Ia terheran-heran bahwa seorang Yahudi meminta minum kepadanya, suatu hal yang tak akan dilakukan orang-orang Yahudi. Tetapi Ia yang meminta minum haus akan imannya.
Sekarang dengarlah dan simaklah siapakah gerangan yang meminta minum. Yesus menjawab kepadanya dengan mengatakan: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
Yesus meminta minum, dan Ia menjanjikan minum. Ia membutuhkan, sebagai seorang yang berharap menerima, namun begitu Ia kaya, sebagai Dia yang hendak memuaskan dahaga yang lain. Ia berkata: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah. Anugerah Allah adalah Roh Kudus. Akan tetapi Ia masih mempergunakan bahasa yang tersamar sementara Ia berbicara kepada si perempuan dan perlahan-lahan masuk ke dalam hatinya. Atau adakah Ia telah mengajarinya? Adakah yang terlebih lembut dan murah hati dari semangat yang Ia berikan? Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
Apakah air ini yang hendak Ia berikan jika bukan air yang dibicarakan dalam Kitab Suci: Sebab pada-Mu ada sumber hayat? Bagaimanakah dapat merasa haus mereka yang akan meneguk dalam-dalam dari kelimpahan di rumah-Mu?
Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memuaskan secara berlimpah. Perempuan itu belum mengerti. Dalam ketidakmampuan menangkap makna perkataan-Nya, apakah jawabnya? Perempuan itu berkata kepada-Nya: Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air. Kebutuhannya memaksanya melakukan pekerjaan ini, kelemahannya menyusut darinya. Jika saja ia dapat mendengar kata-kata ini: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Yesus mengatakan ini kepadanya, agar susah-payah kerjanya berakhir; tetapi ia belum dapat memahaminya.
PELANGGARAN-PELANGGARAN TERHADAP MARTABAT PEREMPUAN
dikutip dari: Anjuran Apostolik “FAMILIARIS CONSORTIO” #24
Sayang sekali amanat Kristen tentang martabat kaum perempuan ditentang oleh tegarnya mentalitas, yang menganggap manusia bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai benda, sebagai obyek perniagaan, melayani kepentingan egois dan kenikmatan semata-mata. Korban-korban pertama mentalitas itu ialah kaum wanita. Mentalitas itu menghasilkan buah-buah yang amat pahit, misalnya penghinaan terhadap pria maupun wanita, perbudakan, penindasan kaum lemah, pornografi, pelacuran - khususnya dalam bentuk terorganisasi - serta sekian banyak bentuk diskriminasi di bidang pendidikan, pekerjaan, penggajian, dan lain-lain.
Selain itu, banyak bentuk diskriminasi yang merendahkan martabat sekarang ini masih tetap berlangsung di sebagian besar masyarakat kita, yang menimpa dan secara serius merugikan golongan-golongan khas perempuan, misalnya para isteri yang tanpa anak, para janda, para perempuan yang hidup terpisah atau diceraikan, dan ibu-ibu yang tidak menikah.
Para Bapa Sinode setegas mungkin mengecam bentuk-bentuk diskriminasi itu, begitu pula bentuk-bentuk lainnya. Maka kami meminta, supaya oleh semua pihak ditempuh langkah-langkah pastoral yang tegas dan kena sasaran, untuk secara definitif mengatasi situasi itu, sehingga gambar Allah, yang memancar dari semua manusia tanpa kecuali, dihormati sepenuhnya.
KESOPANAN DALAM BERBUSANA
Paus Pius XII (1939-1958) beberapa kali sepanjang hampir duapuluh tahun masa pontifikatnya, secara mendesak berbicara mengenai pentingnya menanamkan kesopanan dalam berpakaian. Beberapa dari antaranya:
![]()
Yang Terbaru:
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : September 2010
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||