379. SESUDAH RETRET DI GUNUNG KERIT.
9 Februari 1946
Terkadang bisa terlihat sekilas bagian-bagian Laut Mati, yang terbentang di sebelah selatan tempat para rasul berada bersama Guru, dari pegunungan, yang tampaknya semakin menjulang tinggi. Dan, menurutku, setiap tahap dari upaya mereka ditandai dengan rangkaian bukit berbatu yang kasar, dengan sisi-sisi lereng yang terjal, yang dipotong oleh lembah-lembah sempit yang mirip dengan sayatan-sayatan raksasa dan dimahkotai dengan puncak-puncak liar. Tidaklah mungkin untuk melihat Sungai Yordan dan lembah suburnya yang damai, atau Yerikho atau kota-kota lainnya. Orang tidak bisa melihat apa-apa selain pegunungan yang menjulang ke arah Samaria, dan Laut Mati yang suram melalui ngarai sempit di antara dua gunung yang menjulang tinggi. Di bawah di lembah ada aliran air yang mengalir dari barat ke timur menuju Yordan. Terdengar lengkingan nyaring burung-burung elang dan kaok burung-burung gagak di langit biru cerah. Burung-burung berkicau di antara cabang pepohonan di lereng yang liar. Angin berbisik selembut seruling di antara ngarai, menyampaikan aroma dan suara yang jauh, atau meliputi mereka yang di dekatnya, entah dengan lembut atau kuat. Gemerincing lonceng kuda sesekali terdengar dari arah jalan, yang pastinya berada di bawah di lembah. Orang juga bisa mendengar embikan domba yang sedang merumput di dataran tinggi dan semburan air terjun dari batu-batu karang atau gemericik air di sungai yang deras. Namun musimnya bagus, kering dan sejuk, sisi-sisi gunung berselimutkan bunga-bunga cerah yang tegak berdiri di antara hamparan rerumputan yang hijau zamrud, dan berkas-berkas bunga dan rangkaian-rangkaian bunga serta dedaunan menggantung dari batang-batang dan dahan-dahan pohon. Pemandangannya sungguh sangat menyedapkan mata.
Wajah ketiga belas orang yang berkumpul di sana berbinar sangat bahagia, bercahaya dengan kebahagiaan adikodrati. Dunia telah dilupakan… Jauh...
Semangat mereka telah pulih dari berbagai guncangan; mereka sekali lagi berada dalam halo Allah, yakni dalam damai. Dan kedamaian itu terpancar di wajah mereka. Namun istirahat sudah berakhir, dan Yesus memberitahukannya kepada mereka. Dan Petrus mengulangi doanya di Gunung Tabor, "Oh! Mengapakah kita tidak berhenti di sini? Sungguh indah berada di sini bersama-Mu!"
"Karena ada pekerjaan yang menantikan kita, Simon bin Yunus. Kita tidak bisa hanya kontemplatif. Dunia sedang menantikan pengajaran kita. Para pekerja Tuhan tidak bisa berhenti ketika ada ladang-ladang yang harus ditabur."
"Lalu... karena aku menjadi sedikit baik hanya ketika aku hidup terpencil seperti sekarang, aku tidak akan pernah bisa untuk... Dunia ini begitu luas! Bagaimana kami bisa mengerjakan semuanya dan kemudian memusatkan diri pada-Mu sebelum mati?"
"Kamu pasti tidak akan mengerjakan semuanya. Itu akan memakan waktu ratusan tahun. Dan ketika suatu bagian sudah dikerjakan, Iblis akan pergi ke sana untuk merusak apa yang sudah dikerjakan. Dengan demikian itu akan menjadi suatu pekerjaan yang berlangsung terus-menerus hingga akhir dunia."
"Nah, kalau begitu, bagaimana aku akan bisa siap untuk mati?" Petrus benar-benar sedih.
Yesus meyakinkannya dengan memeluknya dan berkata, "Kau akan punya waktu. Tidak butuh waktu lama. Suatu tindak memusatkan diri yang sempurna sudah cukup untuk mempersiapkanmu tampil di hadapan Allah. Dan kau akan punya sebanyak waktu yang kau butuhkan. Bagaimanapun kau harus tahu bahwa dengan memenuhi kehendak Allah, orang selalu siap untuk mati dalam kekudusan. Jika Allah menghendakimu untuk menjadi aktif dan kau taat, kau mempersiapkannya dengan lebih baik dengan taat daripada dengan undur diri di antara batu-batu karang yang paling terpencil untuk berdoa dan bermeditasi. Apakah kau percaya?"
"Tentu! Engkau yang mengatakannya! Jadi apakah yang harus kami lakukan?"
"Pergilah sepanjang jalan-jalan di lembah. Kumpulkan mereka yang menantikan-Ku dan wartakan tentang Tuhan dan Iman sampai Aku datang."
"Apakah Engkau akan tinggal sendirian di sini?"
"Tentu saja. Jangan takut. Kamu bisa lihat bahwa kadang-kadang yang jahat merupakan pertolongan bagi yang baik. Elia di sini diberi makan oleh burung gagak. Kita bisa mengatakan bahwa burung bangkai yang ganas sudah memberi makan kita."
"Apakah menurut-Mu yang mereka lakukan itu adalah semacam awal dari pertobatan?"
"Bukan. Tapi amal kasih, meskipun didorong oleh pertimbangan bahwa dengan bermurah hati kepada kita, mereka akan menempatkan kita pada situasi untuk tidak mengkhianati mereka..."
"Tapi kita tidak akan mengkhianati mereka!" seru Andreas.
"Tidak akan. Tapi para pencuri yang menyedihkan itu tidak tahu itu. Tidak ada perasaan rohani dalam diri mereka yang sarat dengan kejahatan."
"Tuhan, Engkau mengatakan itu amal kasih... Apa yang hendak Engkau katakan?" tanya Yohanes.
"Aku hendak mengatakan: fakta bahwa mereka memperlakukan kita dengan murah hati akan diganjari, setidaknya di kalangan orang-orang yang lebih baik. Pertobatan, yang tidak terjadi sekarang, mungkin bekerja lambat, tetapi bisa terjadi. Itulah sebabnya mengapa Aku katakan kepadamu: 'Jangan menolak pemberian mereka.' Dan Aku menerimanya meskipun Aku mencium bau busuk dosa di dalamnya."
"Tapi Engkau tidak makan apa pun..."
"Tetapi Aku tidak mempermalukan para pendosa dengan menolak mereka. Mereka memiliki perasaan awal yang baik. Mengapa menghancurkannya? Aliran air deras di bawah sana, bukankah itu berasal dari cucuran air dari tebing batu terjal itu? Selalu ingat itu. Ini adalah pelajaran untuk kehidupan mendatangmu, ketika Aku tidak lagi ada di antaramu. Jika dalam perjalanan apostolikmu kamu harus berhadapan dengan para penjahat, jangan bersikap seperti orang Farisi, yang memandang rendah semua orang, dan mereka tidak menganggap perlu untuk harus merendahkan diri mereka sendiri terlebih dahulu, sebab mereka rusak. Tapi hampiri mereka dengan kasih yang besar. Aku ingin bisa mengatakan dengan 'kasih yang tak terbatas.' Tidak, Aku mengatakannya. Dan itu adalah mungkin, meskipun manusia 'terbatas' dalam tindakan dan perbuatannya.
Tahukah kamu bagaimana manusia bisa memiliki kasih yang tak terbatas? Dengan menjadi begitu bersatu dengan Allah, sehingga semata-mata satu dengan Allah. Kemudian, sebab makhluk tenggelam dalam Sang Pencipta, maka Sang Pencipta-lah Yang benar-benar bertindak, dan Dia tidak terbatas. Dan para rasul-Ku harus seperti itu, semata-mata satu dengan Allah-nya melalui kuasa kasih, yang begitu dekat dengan Asal-nya hingga larut di dalamnya. Bukan cara kamu berbicara, tetapi cara kamu mengasihi, itu yang akan mempertobatkan hati. Apakah kamu akan bertemu dengan orang-orang berdosa? Kasihi mereka. Apakah kamu akan menderita karena murid-murid yang tersesat? Berupayalah untuk menyelamatkan mereka melalui kasih. Ingatlah perumpamaan tentang domba yang hilang. Oh! selama-lamanya itu akan menjadi seruan manis yang ditujukan kepada orang-orang berdosa. Namun itu juga akan menjadi perintah definitif yang diberikan kepada para imam-Ku. Dengan setiap ketrampilan, dengan setiap pengorbanan, dengan harga kehilangan nyawamu sendiri dalam upaya untuk menyelamatkan suatu jiwa, kamu harus dengan sabar pergi dan mencari mereka yang tersesat dan membawa mereka kembali ke Kawanan. Kasih akan memberimu sukacita. Ia akan berkata kepadamu: 'Jangan takut.' Ia akan memberimu kekuatan begitu rupa untuk meluas ke seluruh dunia, sebab Aku bukan milik-Ku sendiri. Tidak lagi kasih orang-orang benar di masa mendatang harus ditaruh seperti meterai pada hati dan pada lengan, seperti dikatakan Kidung Agung. Tetapi kasih harus ditaruh dalam hati. Kasih harus menjadi pemacu yang mendorong jiwa-jiwa untuk segala tindakan. Dan setiap tindakan harus menjadi kasih yang melimpah, yang tidak lagi puas dengan mengasihi Tuhan atau sesama saja secara mental, tetapi melibatkan diri dalam melawan musuh-musuh Tuhan, mengasihi Tuhan dan sesama secara konkrit, juga melalui perbuatan-perbuatan materiil, yang menghantar pada tindakan yang lebih luas dan yang lebih sempurna yang bertujuan penebusan dan pengudusan sesama saudara.
Melalui kontemplasi orang mengasihi Tuhan, melalui tindakan orang mengasihi sesamanya, tetapi kedua kasih ini tidak terpisahkan, karena hanya ada satu saja kasih, dan dengan mengasihi sesama kita mengasihi Tuhan Yang memerintahkan kasih ini dan memberi kita sesama sebagai saudara. Baik kamu maupun para imam mendatang tidak akan bisa mengatakan bahwa kamu adalah sahabat-Ku, jika cinta kasihmu dan cinta kasih mereka tidak sepenuhnya didedikasikan demi keselamatan jiwa-jiwa, yang untuknya Aku telah berinkarnasi dan yang untuknya Aku akan menderita. Aku memberimu contoh bagaimana orang harus mengasihi. Tetapi kamu dan mereka yang akan datang sesudahmu, harus melakukan apa yang Aku lakukan. Waktu yang baru sudah tiba. Waktunya kasih. Aku telah datang untuk melemparkan api ini ke dalam hati dan ia akan menyala lebih besar sesudah Sengsara dan Kenaikan-Ku, dan ia akan mengobarkanmu ketika Kasih Bapa dan Putra turun untuk mengkonsekrasikanmu pada pelayananmu.
Kasih yang Mahailahi! Mengapakah Engkau berlambat untuk melahap Kurban, dalam membuka mata dan telinga, dalam mengendurkan lidah dan kaki tangan kawanan-Ku ini, supaya mereka bisa pergi ke tengah serigala dan mengajarkan bahwa Allah adalah Kasih, dan bahwa dia yang tidak memiliki kasih adalah seorang yang tak berperikemanusiaan dan setan? 'Oh! datanglah, Roh yang termanis dan perkasa, dan nyalakan Kristus-kristus yang lain dalam mereka, seperti Aku, yaitu, diurapi oleh kasih, aktif demi kasih, kudus dan menguduskan melalui kasih."
Diberkatilah mereka yang mengasihi, karena mereka akan dikasihi, dan jiwa mereka tidak akan pernah berhenti bermadah bagi Allah bersama para malaikat hingga mereka akan memadahkan kemuliaan abadi dalam terang Surga. Jadilah demikian untukmu, sahabat-sahabat-Ku. Sekarang pergilah dan lakukan dengan kasih apa yang sudah Aku katakan padamu."
|
|