391. DI MASADA.             


25 Februari 1946   

Mereka mendaki sebuah bukit yang sangat terjal menuju sebuah kota, yang kelihatan seperti sarang burung rajawali di puncak pegunungan Alpen. Mereka melangkah maju dengan susah payah ke arah timur dan meninggalkan jajaran pegunungan yang sambung-menyambung, yang merupakan bagian dari barisan pegunungan Yudea dan yang, seperti dinding-dinding penopang sebuah tembok raksasa, membentang ke arah ujung selatan Laut Mati. Puncak gunung di mana kota dibangun, sangatlah tinggi, terpencil dan curam.

"Jalan yang luar biasa, Tuhan-ku!" erang Petrus.

"Ini bahkan lebih buruk daripada jalan ke Yiftah-El," komentar Matius.

"Tapi di sini tidak hujan, tidak lembab, dan jalanannya tidak licin. Dan itu tidak terlalu buruk," komentar Yudas Tadeus.

"Ya. Itu merupakan penghiburan. Tapi itu satu-satunya penghiburannya. Jangan khawatir! Para musuhmu tidak akan menangkapmu! Jika gempa bumi tidak menewaskanmu, maka tidak akan ada satu perbuatan manusia pun yang akan bisa membinasakanmu," kata Petrus berbicara mengenai benteng kota, yang berada dalam lingkaran sempit pertahanannya, dengan rumah-rumahnya yang berdesakan satu sama lain, bagai biji-biji delima dalam kulit kerasnya.

"Apakah menurutmu begitu, Petrus?" tanya Yesus.

"Apakah menurutku begitu? Aku melihatnya. Dan itu lebih baik!"

Yesus menggelengkan kepala-Nya tetapi tidak menjawab.

"Mungkin akan lebih baik jika kita tadi menyusuri jalan sepanjang laut. Andai Simon di sini... dia mengenal baik daerah ini," kata Bartolomeus seraya menghela napas, sebab dia kelelahan.

"Ketika kita sudah di kota dan kamu melihat jalan satunya, kamu akan berterima kasih kepada-Ku sebab telah memilih jalan yang ini. Orang bisa mendaki di sini, meski dengan susah payah. Di jalan yang satunya bahkan kambing pun sulit mendakinya," jawab Yesus.

"Bagaimana Engkau tahu? Apakah ada yang memberitahu-Mu, atau...?"

"Aku tahu. Bagaimanapun juga, menantu perempuan Ananias tinggal di sini. Aku ingin berbicara kepadanya, sebagai hal yang pertama."

"Guru... apakah tidak akan ada bahaya di atas sana?... Karena kita tidak bisa keluar dengan tergesa-gesa dari sini, dan jika mereka mengejar kita, kita tidak akan pernah bisa melihat rumah kita lagi. Lihatlah jurang-jurang yang mengerikan itu! Dan batu-batunya yang tajam!..." kata Tomas.

"Jangan takut. Kita tidak akan mendapati En-Gedi yang lain. Hanya sedikit kota saja yang seperti En-Gedi di Israel. Tapi tidak ada bahaya yang akan menimpa kita."

"Itu karena... Tahukah Engkau bahwa itu adalah salah satu benteng Herodes?..."

"Jadi? Jangan takut, Tom! Hingga saatnya tiba, tidak ada suatu pun yang serius yang akan terjadi."

Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di tembok-tembok yang tidak terlalu menarik, ketika matahari sudah tinggi. Namun area yang tinggi memoderasi panasnya.

Mereka memasuki kota melalui bangunan melengkung suatu gerbang sempit yang suram. Tembok bentengnya sangat besar, dengan banyak menara dan crenel [= celah untuk mengintai dan membidikkan senjata] yang sempit.

"Sungguh permainan jebakan!" kata Matius.

"Aku memikirkan orang-orang malang yang harus membawa semua materialnya ke atas sini, balok-balok itu, pelat-pelat besi ini..." kata Yakobus Alfeus.

"Cinta suci kepada tanah air dan kemerdekaan membuat beban itu ringan bagi anak buah Yonatan Makabe. Keegoisan yang jahat dan ketakutan akan kemarahan rakyat membebankan kuk yang berat, bukan pada rakyat, tetapi pada orang-orang yang bahkan lebih buruk daripada budak, oleh kehendak Herodes Agung. Ia dibaptis dengan darah dan airmata, ia akan binasa dengan darah dan air mata, saat hukuman ilahi tiba."

"Guru, tapi apa hubungannya penduduk dengan hal itu?"

"Tidak ada. Dan segalanya. Karena ketika rakyat berlomba-lomba bersama pemimpinnya dalam kebaikan atau kejahatan, mereka menerima hadiah atau hukuman yang sama dengan pemimpinnya. Tapi, ini dia rumahnya, rumah yang ketiga di jalan yang kedua, dengan sumur di depannya. Ayo..."

Yesus mengetuk pintu sebuah rumah yang sempit tinggi. Seorang anak laki-laki membuka pintu.

"Apakah kau kerabat Ananias?"

"Aku dinamai seturut namanya, karena dia adalah ayah dari ayahku."

"Panggil ibumu. Katakan padanya bahwa Aku datang dari kota di mana Ananias tinggal dan di mana kubur suaminya yang sudah meninggal berada."

Anak laki-laki itu pergi dan kembali. "Dia berkata bahwa dia tidak peduli dengan kabar apa pun tentang laki-laki tua itu. Bahwa Engkau bisa pergi."

Wajah Yesus menjadi sangat keras. "Aku tidak akan pergi sampai Aku berbicara dengannya. Nak, pergi dan beritahukan padanya bahwa Yesus dari Nazaret, kepada siapa suaminya percaya, ada di sini dan ingin berbicara kepadanya. Katakan padanya untuk tidak takut. Orang tua itu tidak di sini..."

Anak laki-laki itu pergi lagi. Suatu penantian yang lama. Orang-orang berhenti untuk mengamati dan beberapa dari mereka menanyai para rasul. Namun suasananya tidak menyenangkan atau acuh tak acuh atau ironis... Para rasul berusaha bersikap baik, tetapi jelas bahwa mereka ketakutan. Dan mereka menjadi lebih ketakutan lagi ketika orang-orang terkemuka kota itu datang bersama beberapa prajurit. Baik orang-orang yang pertama maupun orang-orang yang terakhir sama seperti... orang-orang yang dari penjara dan tidak seorang pun yang membangkitkan rasa percaya diri penduduk.

Yesus, yang tenggelam dalam pikirannya, menanti dengan sabar, dengan bersandar pada tiang pintu, dengan tangan terlipat.

Perempuan itu akhirnya datang. Dia tinggi dan berkulit gelap, matanya keras dan profilnya tajam. Dia tidak jelek dan tidak juga tua, tapi rona wajahnya membuatnya tampak jelek dan tua.

"Apa yang Kau inginkan? Cepatlah, karena aku sibuk," katanya dengan angkuh.

"Aku tidak ingin apa-apa. Kau bisa yakin akan hal itu. Aku hanya membawakan untukmu pengampunan Ananias, kasihnya dan doa..."

"Aku sudah menyingkirkannya dari hidupku! Tidak ada gunanya memohon padaku. Aku tidak mau orang-orang tua yang merana. Semuanya sudah berakhir dengannya. Bagaimanapun aku akan segera menikah kembali dan aku tidak bisa memasukkan seorang petani kasar sepertinya ke dalam rumah seorang kaya. Aku sudah cukup menderita karena kesalahanku menikahi putranya! Tapi kala itu aku masih seorang gadis bodoh dan aku hanya melihat ketampanan laki-laki itu. Celakalah aku! Celakalah aku! Terkutuklah apa pun yang membawanya kembali kepadaku! Bahkan ingatan akan dia pun terkutuklah..." dia berteriak-teriak sangat liar.

"Cukup! Hormatilah mereka yang hidup dan yang mati yang tidak pantas kau miliki; hatimu, perempuan, lebih keras daripada batu. Celakalah kau! Ya. Celakalah kau! Sebab dalam hatimu tidak ada kasih kepada sesamamu, dan akibatnya Iblis ada dalam dirimu. Tapi hati-hatilah, perempuan. Hati-hatilah, jangan sampai airmata orang tua itu dan airmata suamimu, yang pastilah kau tindas karena tidak adanya kasihmu, menjadi api yang menghujani apa yang kau sayangi. Kau punya anak-anak, perempuan!..."

"Anak-anak! Aku berharap aku tidak memiliki mereka! Juga ikatan yang terakhir pun akan diputuskan! Tapi aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Aku tidak mau mendengarkan-Mu. Pergi! Aku di rumahku, di rumah saudara laki-lakiku. Aku tidak mengenal-Mu. Aku tidak mau mengingat orang tua itu. Aku tidak..." dia berteriak-teriak seperti burung murai yang dicabuti bulunya hidup-hidup. Dia benar-benar seorang harpi [= si perenggut, makhluk dalam mitologi Yunani berwujud setengah perempuan setengah burung].

"Berhati-hatilah," kata Yesus.

"Apakah Engkau mengancamku?"

"Aku memanggilmu kembali kepada Allah, kepada Hukum-Nya, karena aku merasa iba pada jiwamu. Bagaimana kau bisa membesarkan anak-anakmu, jika kau punya perasaan yang seperti itu? Apakah kau tidak takut akan penghakiman Allah?"

"Oh! Cukup. Saul, pergi dan panggil saudaraku dan katakan padanya untuk datang ke sini bersama Yonatan. Akan aku tunjukkan pada-Mu! Aku..."

"Oh! Tidak. Itu tidak perlu. Allah tidak akan memaksa jiwamu. Selamat tinggal."

Dan Yesus pun pergi, dengan menggunakan sikut-Nya untuk menerobos kerumunan orang banyak. Jalanan sempit, di antara rumah-rumah yang tinggi. Pusat pertahanan kota benteng berada di sisi timur, di mana semuanya turun terjal ratusan meter dan di mana sebuah jalan berkelok-kelok yang sempit, sangat curam, mendaki ke puncak bukit, dari dataran dan dari pantai. Yesus pergi ke sana, di mana terdapat emplasemen untuk mesin perang, dan Dia mulai berbicara, dengan mengulangi sekali lagi undangan-Nya ke Kerajaan Surga, yang dijelaskan-Nya mengenai ciri-ciri utamanya.

Dan Dia hendak menerangkannya kepada mereka, ketika beberapa orang terkemuka maju ke depan dengan menerobos kerumunan orang banyak dan saling berteriak satu sama lain. Begitu berada di hadapan Yesus, mereka memerintahkan: "Pergi! Kami sudah punya cukup di sini untuk mendidik anak-anak Israel," tetapi mereka mengatakannya dengan agak membingungkan, sebab mereka semua berbicara bersamaan dan kelihatannya saling sepakat hanya untuk mengusir Yesus.

"Pergi! Kaum perempuan kami tidak perlu dicela oleh-Mu, orang Galilea!"

"Pergi, pencela! Beraninya Engkau mencela seorang perempuan Herodian, di salah satu kota favorit Herodes agung? Perampas kuasa, sejak kelahiran-Mu, dari hak kedaulatannya! Enyah dari sini!"

Yesus menatap mereka, khususnya pada orang-orang yang terakhir, dan Dia mengatakan sepatah kata saja: "Munafik!"

"Pergilah! Enyah!"

Ada keributan nyata dari suara-suara sumbang, masing-masing menuduh atau membela golongannya sendiri. Tidak mungkin mengerti apa pun.

Di alun-alun kecil kaum perempuan berteriak-teriak dan jatuh pingsan, anak-anak menangis, para tentara berusaha menerobos keluar dari benteng, dan dengan berbuat demikian mereka menyakiti orang-orang yang tertumbuk di alun-alun, yang bereaksi dengan mengutuk Herodes dan tentaranya, Mesias dan pengikut-Nya. Betapa huru-hara! Para rasul, yang berhimpitan di sekeliling Yesus, adalah satu-satunya yang membela Dia dengan gagah berani, dan mereka juga melontarkan makian yang pedas, dan sebagai pelaut mereka sama sekali tidak kekurangan kosa kata yang tepat!

Yesus memanggil mereka dan berkata: "Ayo kita keluar dari sini. Kita akan mengitari bagian belakang kota dan pergi..."

"Untuk selamanya, ingatlah!" teriak Petrus, yang wajahnya ungu karena amarah.

"Ya, untuk selamanya..."

Mereka pergi dalam satu barisan, dan meskipun para rasul sudah meminta-Nya dengan sangat, Yesus berada di akhir barisan. Para pengawal, kendati mereka mengejek "nabi yang dicemooh", seperti kata mereka, mempermainkan-Nya dengan segala macam cara, mereka punya cukup akal sehat untuk bergegas dan menutup gerbang dan bersandar padanya, dengan senjata terarah ke alun-alun.

Yesus mengambil jalan yang sangat sempit di sepanjang tembok, jalan kecil selebar dua telapak tangan yang di bawahnya ada kehampaan dan kematian. Para rasul mengikuti Dia dengan tidak berani melihat ke bawah ke jurang amat dalam yang mengerikan. Mereka sekarang berada dekat gerbang yang tadi mereka lewati saat memasuki kota. Yesus berjalan terus menuruni bukit, tanpa berhenti. Gerbangnya juga ditutup di sisi kota yang sebelah sini...

Ketika mereka sudah agak jauh dari kota, Yesus berhenti dan menumpangkan tangan-Nya di bahu Petrus, yang berkata seraya menyeka keringatnya, "Kita lolos dari lubang jarum! Kota terkutuk! Dan perempuan terkutuk! Oh! Ananias yang malang! Perempuan itu lebih buruk dari ibu mertuaku! Benar-benar ular beludak!"

"Ya. Dia punya hati yang dingin seperti ular... Simon anak Yunus, jadi, bagaimana menurutmu? Kendati semua pertahanannya , apakah menurutmu kota itu aman?"

"Tidak, Tuhan! Tidak ada Allah di dalamnya. Aku katakan bahwa kota itu akan dikutuk bersama Sodom dan Gomora."

"Kau benar, Simon anak Yunus! Ia mengundang petir murka ilahi kepada dirinya sendiri, bukan terutama karena ia mengusir Aku, melainkan karena semua perintah Dekalog dilanggar di sana. Ayo kita pergi sekarang. Sebuah gua akan menerima kita dalam naungannya yang sejuk sepanjang cuaca panas. Dan saat matahari terbenam kita akan pergi ke Keriot, sejauh cahaya bulan memungkinkan..."

"Guru-ku!" erang Yohanes yang tiba-tiba meledak dalam tangis.

"Ada apa denganmu?" mereka semua bertanya kepadanya.

Yohanes tidak menjawab. Dia berurai airmata dengan kedua tangannya menutupi wajahnya, kepalanya tertunduk... Dia kelihatan seperti Yohanes yang berduka di hari Jumat Agung...

"Jangan menangis! Kemarilah... Masih ada saat-saat menyenangkan di depan kita," kata Yesus seraya menariknya kepada Diri-Nya. Namun apa yang menghibur hati, juga menambah linangan airmata.

"Oh! Guru! Guru-ku! Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?"

"Untuk apa, saudaraku?" "Untuk apa, sahabat?" tanya Yakobus dan yang lain-lainnya.

Yohanes kesulitan berbicara, lalu dia mengangkat wajahnya dan melingkarkan kedua tangannya sekeliling leher Yesus, dan dengan semikian memaksa-Nya untuk membungkuk di atas wajahnya yang berduka, dia berteriak dan menjawab Yesus dan bukannya menjawab orang-orang yang menanyainya, "Melihat-Mu dalam sakrat maut!"

"Allah akan menolongmu, anak-Nya yang terkasih! Kau tidak akan pernah tanpa pertolongan-Nya. Jangan menangis lagi. Ayo kita pergi!..." dan Yesus berjalan pergi sembari menggenggam tangan sang rasul yang dibutakan oleh airmata...
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama