![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() DEVOSI dalam Gereja Katolik
![]() oleh: Romo Gregorius Kaha, SVD
![]() ![]() ![]() APA ITU 'DEVOSI'?
'Devosi' berasal dari kata Latin "Devotio" yang berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Devosi selalu menunjuk pada sikap hati di mana seorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Dalam tradisi Kristen, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi.
![]() ![]() Dalam Liturgi, Gereja mengungkapkan dan melaksanakan dirinya secara resmi. Liturgi sebagai perayaan gereja dipimpin oleh seorang pemimpin resmi, dengan struktur dan tata perayaan yang baku, berlaku umum, mengikat dan resmi.
![]() Devosi merupakan praktek pengungkapan iman umat yang spontan dan lebih bebas. Devosi dapat dibawakan secara pribadi atau pun bersama.
Walaupun bukan merupakan liturgi resmi, devosi diterima dan diakui Gereja. Liturgi resmi sering dialami umat sebagai sesuatu yang rutin, kering, resmi dan kaku. Sebaliknya, devosi justru bisa dihayati umat sebagai sesuatu yang memenuhi kebutuhan afeksi, emosi dan kerinduan hati. Devosi merupakan praktek keagamaan populer yang mudah diterima, dipahami dan dipraktekkan.
![]() MUNCULNYA DEVOSI UMAT
![]() Praktek devosi dalam Gereja Katolik mulai berkembang pada abad pertengahan. Pada abad VIII Liturgi Ritus Romawi dengan bahasa Latinnya diberlakukan di seluruh Eropa. Pada abad XVI, Konsili Trente menyeragamkan Liturgi Gereja Katolik secara tegas dan kaku. Umat awam semakin merasa terasing dari liturgi resmi gereja. Keterasingan dan ketidakterlibatan umat dalam liturgi menyebabkan kerinduan umat akan bentuk-bentuk pengungkapan iman yang lebih mudah, sederhana dan memuaskan kebutuhan afeksi mereka. Maka, lahirlah berbagai macam praktek devosi.
![]() Doa-doa Liturgi Romawi terkenal padat dan rasional, lebih mengungkapkan konsep teologis daripada pengalaman religius umat. Karena itu, umat mencari cara pengungkapan iman yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Devosi tidak menekankan keindahan rumusan doa-doa teologis, melainkan menekankan unsur perasaan dan emosi yang tergerak berkat kerinduan hati akan Allah.
![]() Sebagian besar devosi umat Katolik berasal serta dipengaruhi oleh praktek religius umat setempat. Pengalaman religius adalah pengalaman mendasar setiap manusia yang merindukan kebahagiaan sejati yang diyakini sebagai anugerah dari kekuatan yang tertinggi. Bentuk ungkapan pengalaman religius ini berbeda-beda. Masyarakat yang belum mengenal Tuhan mungkin mengungkapkan sikap religius mereka melalui upacara kurban kepada dewa-dewi, sementara umat Kristiani mengungkapkan sikap religius mereka melalui devosi lokal. Tugas gereja adalah masuk dalam devosi kerakyatan ini dan memurnikan praktek devosi dengan semangat Injil. Gereja tetap mengakui dan menghargai aneka bentuk devosi umat, selama devosi tersebut dihayati dalam "Roh dan Kebenaran" (Yoh 4:23).
APA MANFAAT DEVOSI?
Sumbangan Devosi bagi Liturgi Gereja:
![]() ![]() ![]() HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI DALAM DEVOSI :
Devosi tidak pernah dipandang sebagai pengganti liturgi. Dalam gereja dikenal tingkatan-tingkatan. Dari seluruh liturgi resmi gereja, Perayaan Ekaristi merupakan liturgi yang tertinggi dan yang terutama tingkatnya, sesudah itu menyusul sakramen-sakramen yang lain. Namun demikian, praktek devosi dapat dihubungkan dengan liturgi resmi. Misalnya, novena dalam Perayaan Ekaristi.
Devosi harus dijauhkan dari bahaya praktek magis. Hal ini terjadi jika orang memandang kekuatan dan daya pengudusan berasal dari barang, mantra, angka dll.
Devosi harus tetap sesuai dengan iman gereja sebagaimana tertera dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Apa yang menjadi keyakinan devosional pribadi/kelompok tidak selalu harus menjadi iman Gereja Universal. Oleh karena itu, berhadapan dengan sekian banyak penampakan, gereja selalu mengambil sikap hati-hati.
MACAM-MACAM DEVOSI :
![]() Sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus berkembang mulai abad pertengahan. Pada abad XI, Berengarius menyangkal bahwa Kristus sungguh hadir dalam Hosti Kudus sesudah konsekrasi. Guna menentang ajaran sesat tersebut, maka mulailah digalakkan ditengah umat keyakinan iman akan kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi. Adorasi Sakramen Mahakudus paling ideal dilakukan sesudah Perayaan Ekaristi, sehingga nilai kesatuan antara devosi dan liturgi ekaristi tetap terpelihara dengan baik.
![]() Bentuk devosi rakyat yang muncul karena kebiasaan ziarah ke Yerusalem (lihat: Apa itu Jalan Salib?, Jalan Salib: Bagaimana dengan peristiwa2 yang tidak disebutkan dalam Injil?).
![]() Berasal dari kata Latin `Novem' yang berarti sembilan. Angka sembilan bukan khas Kristen, tetapi sudah ada dalam tradisi religius masyarakat waktu itu. Tradisi Kristen memberi arti baru, yaitu menghubungkannya dengan peristiwa di mana para rasul bersama Bunda Maria berdoa selarna sembilan hari lamanya menantikan kedatangan Roh Kudus.
![]() Ziarah merupakan fenomena religius yang umum. Setiap agama memiliki tempat ziarahnya masing-masing. Dalam perkembangannya, banyak tempat ziarah lokal yang dulunya adalah tempat keramat bagi masyarakat setempat lalu dikuduskan umat Kristiani (lihat: Bagaimana Sendangsono menjadi tempat ziarah?). Sejak dahulu hingga sekarang, gereja memahami ziarah sebagai suatu perjalanan tobat. Ziarah juga merupakan ungkapan iman gereja yang musafir yang berjalan menujuh tanah air surgawi.
![]() Devosi khas Katolik. Maria mendapat tempat khusus dalam gereja karena perannya yang amat istimewa dalam karya penyelamatan manusia. Maria dikandung secara ajaib dan melahirkan secara ajaib pula.
Devosi kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, merupakan perkembangan dari devosi kepada orang kudus. Devosi kepada orang kudus harus selalu diarahkan kepada Allah. Sasaran devosi bukan para kudus, melainkan Allah, karena Allah sendirilah yang bekerja dalam diri mereka. Oleh sebab itu, devosi kepada Bunda Maria dirumuskan Gereja sebagai “Per Mariam Ad Christus", melalui Maria sampai kepada Kristus. Artinya, cinta saya kepada Maria, haruslah menghantar saya untuk memperdalam cinta saya kepada Yesus Kristus.
BEBERAPA BENTUK DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA :
![]() ![]() ![]() DUA EKSTRIM YANG HARUS DIHINDARI DALAM BERDEVOSI KEPADA BUNDA MARIA :
"Mariophobia" dan "Mariocentricisme" (lihat: MARIA: Persoalan yang tak pernah selesai?)
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM DEVOSI :
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() Akhirnya, dalam terang iman dan kecintaan saya terhadap Bunda Maria, saya berharap agar pokok-pokok pikiran sederhana ini membantu saudara-saudari dalam penghayatan iman. Allah tidak pernah mati, jangan pernah berhenti mencari Dia. Dalam usaha itu, belajarlah dari Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita.
"Maria, Ora Pro Nobis!"
sumber utama : 1. “Pengantar Liturgi: Makna Sejarah dan Teologi Liturgi”; E. Martasudjita, Pr; Kanisius 1999; 2. “Rosario: Sejarah dan Misteri Kuasanya”; Willem Daia; Pusaka Nusatama 2000
sumber tambahan : 1. “Mariologi, Teologi dan Devosi”; C. Groenen; Kanisius 1988; 2. “Maria”; Seri Pastoralia; Nusa Indah 1988; 3. “Maria: Devosi Yang Khas Katolik”; Seri Pastoral; Ledalero 1988
![]() Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
![]() |